
Cilacap, Kabar Indonesia – Warga Dusun Gunung Tiga, Desa Bantarmangu, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, senantiasa melestarikan tradisi luhur yang telah diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah kegiatan tasyakuran atau syukuran setiap tanggal 10 Hapit. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin setiap tahun menjadi momen istimewa bagi warga untuk berkumpul, bersyukur atas nikmat yang telah diterima, serta mempererat hubungan kekeluargaan antar sesama.
Kepala Desa Bantarmangu, Nur Johan, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukanlah hal yang baru bagi masyarakat setempat. Tradisi ini sudah ada dan berlangsung lama, melekat dalam kehidupan sehari-hari warga sebagai bagian dari identitas budaya dan kebiasaan yang dijaga dengan baik hingga saat ini.

“Kegiatan Setiap Tanggal 10 Hapit ini merupakan warisan budaya yang sudah ada sejak zaman dahulu dan terus kami lestarikan hingga sekarang. Tujuan utamanya tentu sebagai wujud rasa syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rezeki dan perlindungan yang diberikan. Selain itu, kegiatan ini juga kami harapkan dapat menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi, memperkuat kebersamaan, serta menjaga keharmonisan hubungan antar warga di lingkungan kita,” ungkap Nur Johan.

Kegiatan adat ini memiliki ciri khas tersendiri yang menjadi daya tarik dan kekhasan tersendiri. Sebagai bagian dari rangkaian acara yang sakral dan penuh makna, tradisi memotong kerbau menjadi salah satu bagian yang tak terpisahkan dari pelaksanaan Hapit. Ritual ini telah dilakukan secara turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari tata cara pelaksanaan kegiatan adat tersebut di Desa Bantarmangu.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Camat Cimanggu, Agus Priharso, S.Hut., M.P., memberikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, tradisi yang dijalankan dengan penuh kesadaran dan kekeluargaan seperti ini memiliki nilai yang sangat positif dan manfaat yang luas bagi kehidupan bermasyarakat.

“Saya sangat mengapresiasi warga Desa Bantarmangu yang senantiasa melestarikan tradisi yang baik seperti ini. Kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial atau rutinitas biasa, melainkan memiliki makna yang dalam. Di samping menjadi wadah untuk bersyukur, kegiatan seperti ini sangat efektif dalam memperkuat persatuan dan kesatuan warga. Inilah modal utama bagi kita semua dalam membangun daerah, karena pembangunan akan berjalan lancar jika didasari oleh masyarakat yang rukun, bersatu, dan saling mendukung satu sama lain,” tegas Camat Agus Priharso.
Acara tasyakuran berlangsung dengan khidmat, lancar, dan penuh kehangatan. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari warga biasa, tokoh masyarakat, pemuka adat, hingga seluruh jajaran perangkat desa yang turut hadir dan memberikan dukungan agar tradisi yang baik ini dapat terus berlanjut dan terjaga kelestariannya sepanjang masa.
Dengan terus digelarnya tradisi ini, diharapkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya senantiasa menjadi pedoman hidup warga, serta menjadi bukti bahwa kekayaan budaya lokal dapat menjadi kekuatan utama dalam memajukan dan mempersatukan masyarakat.
Reporter: Dodo P (Ki Alit)