
TASIKMALAYA, KABAR INDONESIA – Semangat kebesaran Tatar Sunda kembali bergema. Ribuan masyarakat memadati jalanan Kabupaten Tasikmalaya dalam rangkaian Kirab Budaya “Napak Tilas Padjajaran” yang mengusung Mahkota Binokasih. Acara yang merupakan bagian dari peringatan Milangkala Tatar Sunda tahun 2026 ini, pada hari ketiganya mengusung tema khusus “Nyukcruk Galur Galunggung”.
Kegiatan yang digelar pada Senin (04/05/2026) ini menjadi momen bersejarah, ditandai dengan penyerahan Naskah “Amanat Galunggung” secara simbolis dari Bupati Tasikmalaya, Dr. H. Cecep Nurul Yakin, S.Pd., M.A.P., kepada Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM). Prosesi sakral ini dilakukan didampingi langsung oleh Ketua Majelis Adat Sunda (MASDA) Jabar, Abah Dr. H. Anton Charliyan.
Kirab dimulai dari kawasan Universitas Cipasung menuju Pendopo Kabupaten Tasikmalaya. Meskipun sempat direncanakan berakhir di Kampung Naga, namun demi kenyamanan dan keamanan, titik akhir dialihkan ke kantor Pemkab.
Iring-iringan tampak sangat megah, diwarnai dengan tarian tradisional, pasukan berkuda, hingga kereta kencana yang membawa Mahkota Binokasih. Kegiatan ini dihadiri oleh Sekda Prov Jabar Dr. Drs. Herman Suryatman, M.Si., Forkopimda, para Bupati/Walikota, tokoh masyarakat, budayawan, serta puluhan ribu warga yang antusias menyaksikan langsung perjalanan budaya tersebut.

Dalam sambutannya, Gubernur Dedi Mulyadi menekankan bahwa setiap kebijakan pemimpin harus berlandaskan pada nilai-nilai luhur leluhur.
“Naon nu dilakonan hiji amanah ti karuhun, kudu deudeuhan, welasan, asihan. Ulah aya rakyat nu gering teu ka ubaran, ulah aya nu teu bisa sakola,” ujar KDM.
Ia juga mengajak seluruh elemen untuk menjaga kelestarian alam dan budaya, serta menjadikan kearifan lokal sebagai pondasi membangun Jawa Barat yang maju dan berkarakter.
Sementara itu, Ketua MASDA Jabar, Abah Anton Charliyan, yang juga dikenal sebagai Sesepuh Galunggung, memaparkan makna filosofis di balik kegiatan ini.
Menurutnya, nama “Binokasih” mengandung arti “penuh kasih sayang”, yang mengisyaratkan bahwa seorang pemimpin harus memerintah dengan asih, asah, dan asuh.
“Mahkota ini adalah simbol legitimasi dan eksistensi Urang Sunda. Ini bukan sekadar hiasan, tapi pengingat sejarah bahwa kita pernah besar dan berjaya,” ujar Abah Anton.
Ia juga menegaskan kembali pesan sakral dari zaman dahulu yang berbunyi:
“Jaga ieu Kabuyutan ulah tepi ka dikuasai ku Asing…”
Yang artinya menjaga tanah leluhur agar tidak dikuasai pihak asing, karena jika tidak mampu menjaganya, maka derajatnya lebih hina daripada bangkai.
Momen puncak terjadi saat Bupati Cecep didampingi Abah Anton menyerahkan naskah Amanat Galunggung kepada Gubernur Dedi Mulyadi.
“Hana Nguni Hana Mangke, Tan Hana Nguni Tan Hana Mangke”
(Ada masa lalu, ada masa kini. Tanpa masa lalu, tiada masa kini).
Penyerahan ini menjadi simbol estafet kepemimpinan dan tanggung jawab bersama untuk terus menjaga, merawat, dan melestarikan warisan budaya leluhur bagi generasi mendatang.

Acara berlangsung sangat meriah dan penuh khidmat, menjadi bukti kuatnya rasa persaudaraan dan cinta tanah air di hati masyarakat Tatar Sunda.
Reporter : Asep Saepudin